
Seruya, Bontang – Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris jadi pembicara dalam agenda diskusi dengan tema “Kolaborasi Daerah untuk Pendidikan Berkualitas”, Rabu (26/11/2025).
Agus Haris menyampaikan bahwa posisi pemerintah tidak kaku. Menurut dia, peran pemerintah sudah bergeser.
Bukan lagi sekadar regulator yang memerintah dari atas. Tapi mitra yang berjalan beriringan dengan sekolah dan masyarakat.
“Pemerintah ini hadir bukan hanya sebagai pembuat kebijakan, tapi sebagai mitra yang memastikan setiap anak di Bontang mendapatkan kesempatan pendidikan terbaik,” ucapnya.
Dalam pertemuan itu, Agus Haris juga menyampaikan bahwa apa yang harus dipahami saat ini pemerintah menarget generasi emas yang diprediksi pada tahun 2045. Olehnya itu harus saru frekuensi:
“Yang harus kita pahami secara bersama-sama. Kita harus satu frekuensi, bahwa tahun 2045 kita masuk masa keemasan,” tandasnya.
Lebih lanjut Agus Haris juga menyampaikan bahwa Pemkot Bontang sedang mematangkan regulasi pendukung yang menyentuh akar masalah.
Seperti penguatan jam belajar malam dengan melibatkan pengawasan Satpol PP, hingga keberpihakan anggaran untuk insentif guru swasta dan percepatan sertifikasi.
Dalam pertemuan itu Roselina Ping Juan dari Tanoto Foundation mengapresiasi langkah ini. Dia menyebut perubahan pendidikan memang tidak cukup berhenti di tataran wacana, tetapi harus mewujud dalam aksi nyata di ruang-ruang kelas.
Dalam kesempatan itu para Fasilitator Daerah (Fasda) memamerkan hasil nyata dari kreativitas mereka. Salah satu yang mencuri perhatian adalah proyek KPFP Bontang.
Inovasi itu terbukti sukses mendongkrak kompetensi guru hingga angka fantastis 98 persen melalui pelatihan LKPD berbasis Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). (Adv)











