BONTANG – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bontang memfokuskan upaya percepatan penurunan stunting di Kelurahan Bontang Lestari melalui Rapat Koordinasi Hasil Timbang Serentak, Rabu 24 Juni 2026.
Dalam rapat itu, dibahas pemetaan bayi berisiko sebagai dasar penyusunan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Rapat dipimpin Kepala Bapperida Bontang Syahruddin didampingi Sekretaris Bapperida Ilham Wahyudi. Hadir pula Lurah Bontang Lestari, jajaran Puskesmas Bontang Selatan, serta DP3AKB Bontang.
Kepala Bidang Pembangunan Manusia, Pemerintahan, Aparatur dan Kesejahteraan Rakyat Bapperida Bontang, Hasman, memaparkan hasil pemantauan timbang serentak berdasarkan data Dinas Kesehatan periode Januari hingga Juni 2026.
Dari hasil pendataan tersebut, terdapat 47 bayi berusia di bawah satu tahun yang menjadi perhatian, terutama kelompok usia 0–6 bulan sebagai sasaran prioritas pencegahan stunting.
Rinciannya, sebanyak tujuh bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (14,9 persen), enam bayi lahir prematur (12,8 persen), serta 11 bayi memiliki berat lahir antara 2 hingga 2,7 kilogram atau sekitar 23,4 persen.
“Kalau kita ingin menurunkan stunting secara nyata, maka sasaran intervensinya harus semakin spesifik. Bontang Lestari perlu kita petakan lebih rinci, terutama bayi dengan risiko sejak awal kelahiran, seperti berat badan lahir rendah, prematur, dan kelompok bayi usia 0–6 bulan,” kata Hasman.
Menurutnya, bayi-bayi berisiko tersebut tersebar di sejumlah wilayah layanan posyandu sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih intensif melalui kolaborasi antara puskesmas, kelurahan, kader posyandu, dan perangkat daerah terkait.
Dalam rapat itu, Hasman juga mengusulkan pembentukan gerakan pendampingan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai inovasi kolaboratif lintas sektor.
Gerakan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak, pendampingan keluarga berisiko, serta pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Sementara itu, Kepala Bapperida Bontang Syahruddin menegaskan hasil timbang serentak harus menjadi dasar dalam menyusun langkah intervensi yang lebih terarah.
“Data timbang serentak ini bukan sekadar angka. Di balik setiap angka ada anak, ada keluarga, dan ada masa depan Bontang yang harus kita jaga. Karena itu, intervensi harus fokus, tepat sasaran, dan dilakukan secara bersama. Bontang Lestari menjadi lokus yang harus kita kawal dengan serius,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kelurahan, kader, keluarga, hingga perangkat daerah yang berkaitan dengan perlindungan anak dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui pemetaan hasil timbang serentak ini, Bapperida berharap program penguatan posyandu, pemantauan bayi berisiko, edukasi keluarga, serta kolaborasi lintas sektor dapat semakin terarah sehingga upaya penurunan stunting di Kota Bontang berlangsung lebih efektif dan preventif sejak awal kehidupan anak. (Adv)












