BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mulai memperkuat sistem pendataan penurunan stunting melalui pengembangan Sistem Informasi Terpadu Stunting (SIRINDU).
Aplikasi yang dikembangkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ini diproyeksikan menjadi pusat integrasi data stunting dari berbagai perangkat daerah agar penanganan balita berisiko dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Pengembangan SIRINDU menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Rapat Koordinasi Data Tunggal Penurunan Stunting yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bontang beberapa waktu lalu.
Dalam pemaparannya, Diskominfo menjelaskan SIRINDU dirancang menghimpun data anak secara menyeluruh, mulai dari nomor kartu keluarga, identitas orang tua, alamat domisili, alamat sesuai KTP, wilayah, hingga hasil pengukuran status gizi.
Selain itu, aplikasi tersebut juga akan menerima data dari posyandu, puskesmas, maupun hasil operasi timbang sehingga seluruh informasi dapat terintegrasi dalam satu sistem.
Kepala Bapperida Bontang, Syahruddin, mengatakan sistem pendataan yang terintegrasi menjadi kebutuhan penting agar seluruh perangkat daerah menggunakan basis data yang sama dalam menyusun intervensi penurunan stunting.
“Banyak daerah yang berhasil menurunkan stunting karena memulainya dari data. Ketika data kuat, sasaran menjadi jelas, kader bisa bergerak lebih tepat, dan intervensi tidak lagi berjalan di tempat,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini masih terdapat perbedaan data antarinstansi sehingga sinkronisasi melalui satu sistem menjadi langkah strategis agar tidak ada sasaran yang terlewat.
SIRINDU tidak hanya menyajikan data gizi dan penimbangan balita. Sistem tersebut juga dilengkapi fitur imunisasi serta surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), sehingga pemerintah dapat memantau tumbuh kembang anak secara lebih komprehensif.
Dalam rapat tersebut, Dinas Kesehatan menyampaikan koordinasi teknis bersama Diskominfo telah beberapa kali dilakukan untuk menyempurnakan dashboard SIRINDU. Penyempurnaan difokuskan agar aplikasi mampu memenuhi kebutuhan pemantauan stunting di lapangan.
Salah satu pembahasan penting adalah integrasi data by name by address dengan data laporan rutin.
Data berbasis nama dan alamat dibutuhkan untuk memastikan setiap anak sasaran dapat ditangani secara spesifik, sedangkan laporan rutin tetap menjadi bagian dari mekanisme pelaporan resmi pemerintah.
Syahruddin menegaskan, data stunting bersifat dinamis sehingga harus terus diperbarui dan divalidasi secara berkala.
“Kita perlu berkomitmen bersama. Data dari satu produsen ke produsen lainnya harus semakin sinkron, bersih, dan akuntabel. Jangan sampai setiap perangkat daerah berjalan dengan data masing-masing,” tegasnya.
Melalui pengembangan SIRINDU inj, Pemerintah Kota Bontang berharap proses pemetaan wilayah prioritas, penentuan sasaran intervensi, hingga evaluasi program penurunan stunting dapat dilakukan secara lebih efektif berbasis data yang terintegrasi. (Adv)












