Home Samarinda Agusriansyah Kritik Kurikulum Asing: Jangan Jadikan Siswa Tamu di Negeri Sendiri

Agusriansyah Kritik Kurikulum Asing: Jangan Jadikan Siswa Tamu di Negeri Sendiri

Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Agusriansyah Ridwan.(Dok: koranseruya)

KALTIMKORANSERUYA – Kurikulum pendidikan di Indonesia dinilai terlalu sarat dengan pengaruh asing dan kurang mencerminkan realitas sosial serta budaya lokal.

Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Agusriansyah Ridwan, menilai sistem pendidikan nasional perlu dirombak agar lebih kontekstual dan berpihak pada jati diri bangsa.

Agusriansyah mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dominasi pendekatan pendidikan ala Barat justru membuat peserta didik semakin jauh dari akar budayanya sendiri.

“Kita bukan bangsa Eropa. Sistem pendidikan kita seharusnya lahir dari karakter sosial dan historis Indonesia, bukan meniru luar negeri tanpa filter,” ujarnya, Jumat (16/5/25).

Sebagai Ketua Ikatan Alumni Doktor Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Mulawarman, Agusriansyah menyatakan bahwa kurikulum bukan sekadar kumpulan materi pelajaran, tetapi juga alat pembentuk karakter, identitas nasional, dan kesadaran sejarah.

Menurutnya, tanpa penyesuaian terhadap konteks lokal, kurikulum justru menciptakan keterasingan dalam proses pendidikan dan menjauhkan generasi muda dari realitas bangsanya sendiri.

Mendorong reformasi sistem pendidikan, ia menegaskan perlunya perumusan ulang kebijakan yang berpijak pada nilai-nilai lokal dan tantangan aktual yang dihadapi bangsa, bukan sekadar mengikuti arus globalisasi yang belum tentu relevan.

Selain isu pendidikan, Agusriansyah juga menyoroti rendahnya partisipasi politik generasi muda. Ia menilai apatisme terhadap politik justru membahayakan masa depan bangsa, karena setiap keputusan penting dalam kehidupan masyarakat berasal dari proses politik.

“Politik itu bukan milik elite semata. Semua aspek kehidupan, dari harga sembako sampai kebijakan pendidikan, berawal dari keputusan politik,” tegasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya literasi digital yang dibarengi dengan pemahaman etika, integritas, dan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kekuatan moral.

“Pendidikan tidak boleh hanya mengasah logika, tapi juga membentuk karakter. Anak muda harus bisa memilah informasi dan tetap menjunjung nilai kebenaran,” ucapnya.

Agusriansyah berharap generasi muda Indonesia mampu tampil sebagai agen perubahan yang tak hanya pintar secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan budaya, agar tidak menjadi asing di tanahnya sendiri.

RF (ADV DPRD KALTIM)