Home Samarinda Minim Tenaga Gizi Dinilai Menghambat Upaya Penurunan Stunting di Kaltim

Minim Tenaga Gizi Dinilai Menghambat Upaya Penurunan Stunting di Kaltim

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. (Foto : AL)
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. (Foto : AL)

Samarinda – Kekurangan tenaga gizi di Kaltim menjadi salah satu faktor utama yang menghambat percepatan penurunan stunting.

Dari data BPS Kaltim 2024 mencatat hanya ada 503 tenaga gizi untuk melayani lebih dari 4 juta penduduk, jauh dari standar nasional yakni 35 tenaga gizi per 100 ribu jiwa.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan tenaga gizi memegang peran sentral dalam pelayanan nutrisi bagi ibu dan anak. Kekurangan jumlah tenaga, kata dia, otomatis berdampak pada kualitas penanganan stunting.

“Masalah stunting ini inti persoalannya ada pada gizi. Tenaga gizi adalah ujung tombak. Kalau mereka kurang, pasti layanan tidak maksimal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi. Kota besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara memiliki tenaga gizi lebih banyak, sementara daerah dengan wilayah luas seperti Mahakam Ulu hanya memiliki 16 tenaga, sehingga akses layanan semakin terbatas.

Untuk menutup kekurangan tersebut, Ananda mendorong Dinas Kesehatan Kaltim menggandeng perguruan tinggi kesehatan, seperti Universitas Mulawarman, UMKT, dan Poltekkes Kemenkes, guna menyiapkan tenaga gizi baru.

Ia berharap penambahan jumlah serta pemerataan tenaga gizi dapat segera dilakukan.

“Kami ingin langkah nyata agar kebutuhan tenaga gizi terpenuhi, sehingga percepatan penanganan stunting bisa berjalan efektif,” tukasnya. (AL/Adv/DPRDKaltim)