Home Bontang Hari Batik Nasional, DKUMPP Bontang Dorong Batik Lokal Naik Kelas

Hari Batik Nasional, DKUMPP Bontang Dorong Batik Lokal Naik Kelas

Kepala DKUMPP Bontang,Eko Arisandi.(dok: koranseruya)
Kepala DKUMPP Bontang,Eko Arisandi.(dok: koranseruya)

BONTANG – Peringatan Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) untuk terus mendorong pengembangan batik lokal.

Kepala DKUMPP Bontang melihat batik tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi.

Semangat “Batik Berlayar” yang diangkat dalam peringatan Hari Batik Nasional menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan mengangkat kreativitas lokal Bontang agar semakin dikenal.

Menurutnya, pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan penguatan para pengrajin dan pelaku UMKM.

Dukungan terhadap produk lokal menjadi penting agar batik tetap berkembang dan mampu mengikuti selera serta kebutuhan masyarakat.

“Batik bukan sekadar kain. Di dalamnya ada identitas, kreativitas, dan peluang ekonomi bagi masyarakat,” kata Eko.

Ia juga mengajak masyarakat Bontang untuk ikut mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan batik dengan bangga mengenakan serta membeli produk karya pengrajin dan UMKM lokal.

Dengan dukungan tersebut, batik diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif daerah.

Diketahui Bontang memiliki batik khas bernama
Batik Kuntul Perak, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2009, yang dipelopori oleh Sayid Abdul Kadir Assegaf.

Batik ini memiliki ciri khas utama berupa motif Burung Kuntul Perak, yang merupakan maskot Kota Bontang.

Burung ini mencerminkan karakteristik masyarakat Bontang yang sebagian besar adalah pendatang, hidup berkelompok, dan energik.

Motif batik Kuntul Perak juga mencakup berbagai elemen, seperti daun mangrove, taburan beras basah, motif jala, ukiran Dayak, serta gambar ikan atau jukut Bawis, yang merupakan hewan laut endemik khas kota Bontang. (Adv)