BONTANG – Anggota Komisi B DPRD Bontang, Suharno, mempertanyakan kelanjutan sejumlah rencana investasi yang pernah disampaikan kepada masyarakat, khususnya pembangunan pelabuhan perikanan dan industri pengalengan ikan.
Menurut Suharno, kedua proyek tersebut sempat menjadi pembahasan hangat saat masa kampanye dan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, ia meminta kejelasan terkait perkembangan dan potensi realisasinya.
“Dulu sempat disampaikan terkait pelabuhan perikanan dan pengalengan ikan. Itu menjadi pembicaraan yang cukup hangat di masyarakat. Nah, sejauh mana perkembangannya dan apakah masih akan dilanjutkan?” tanya Suharno, Rabu (17/6/2026).
Meski demikian, Suharno menilai pemerintah daerah perlu terus aktif membuka komunikasi dengan calon investor agar berbagai peluang investasi yang pernah dijanjikan kepada masyarakat tidak berhenti pada tahap wacana. Ia berharap upaya penjajakan yang dilakukan dapat berujung pada realisasi investasi yang memberikan dampak nyata bagi perekonomian Kota Bontang.
Menanggapi hal itu, Analis Kebijakan Ahli Madya Bidang Penanaman Modal DPMPTSP Bontang, Karel, menjelaskan bahwa pemerintah daerah masih melakukan penjajakan terhadap sejumlah peluang investasi, termasuk sektor kepelabuhanan.
Ia mengungkapkan, Pemkot Bontang sebelumnya telah melakukan kunjungan kerja ke Makassar untuk bertemu dengan PT Samudra Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menawarkan potensi pembangunan pelabuhan peti kemas atau pelabuhan bongkar muat di kawasan Teluk Kadere.
“Lokasi yang ditawarkan berada di Teluk Kadere karena berdasarkan RDTR dan RTRW kawasan tersebut memang memungkinkan untuk aktivitas pelabuhan bongkar muat. Posisi Bontang juga dinilai strategis untuk pengembangan sektor logistik dan kepelabuhanan,” ujar Karel.
Sementara itu, untuk rencana pembangunan industri pengalengan ikan, Karel menyebut hingga kini masih terkendala ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan. Investor menilai pasokan ikan di perairan Bontang belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara konsisten.
“Sebagian besar pasokan ikan justru berasal dari luar daerah, seperti Kalimantan Utara dan wilayah perairan timur Indonesia. Karena itu, investor masih melihat adanya kendala dari sisi kontinuitas bahan baku,” katanya.(Adv)








